Aku telah lama mengenalmu
Mungkin itu sebabnya
Aku bisa menerima setiap kekurangan pada dirimu
Dan tak pernah melihatnya sebagai kekuranganmu
Aku menyayangimu
Dan siap mendampingimu seumur hidupku
Itulah janjiku!
Janjiku untuk dirimu dan untuk diriku sendiri
***
Karena kita tumbuh dan
dewasa bersama-sama, itu sebabnya aku amat mengenal karaktermu. Banyak hal yang
telah kita lalui bersama. Berdua :)
Dari mulai bermain permainan anak-anak, kemudian beranjak mengenal internet dan
sering mengunjungi warnet bersama. Dan kini, aku telah duduk di bangku kuliah
semester tiga. Sedangkan kamu, baru saja menyelesaikan studi di SMA.
Ingatkah dulu, ketika
kita baru saja menjalin hubungan? Sekitar tujuh tahun yang lalu. Saat kita
masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Kita berkomunikasi melalui surat,
surat-surat itu kita titipkan ke orang yang sama-sama kita kenal.
Lucu rasanya mengingat
itu. Ketika kamu mengutarakan cintamu melalui surat. Itu momen terindah yang
selalu aku nantikan. Aku sudah menyukaimu, sejak kita sering bermain bersama di
waktu liburan (kala itu). Aku sering memperhatikanmu bermain dengan kakakku dan
teman-temanmu yang lainnya. Aku sangat bahagia ketika menerima surat pernyataan
cintamu. Seolah kamu menyambut cintaku yang selama ini aku pendam. Hahaha
konyol dan childish.
Namun, sayangnya
kejadian itu tak bertahan lama. Setelah itu, kita mengalami miss
communication. Aku jarang melihatmu lagi, tak seperti hari-hari sebelumnya.
Walaupun rumah kita berdekatan, rasanya sulit sekali untuk menemukan keberadaanmu
kala itu. Kita pun berhenti mengirim surat satu sama lain. Tak ada komunikasi
sama sekali, diantara kita. Aku mulai menjalani hari-hariku tanpa dirimu dan
surat-suratmu. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. . .
Dua tahun sesudah itu,
aku sering melihatmu lagi. Rasanya berbeda. Kala itu, kita sudah duduk di
bangku Sekolah Menengah Pertama. Kamu meminta nomer handphone-ku dari
sepupuku, dan kita mulai SMS-an. Kita sering menghabiskan waktu di taman
untuk bercanda ria. Masih tetap konyol hahaha.
Kehadiranmu kembali
mengisi hari-hariku dan mewarnai hidupku. Begitu indah. Aku menyayangimu. Ya,
aku benar-benar mulai menyayangimu. Bukan sekedar cinta monyet seperti saat
kita masih di Sekolah Dasar. Karena kamu, aku merasakan bagaimana menyayangi
dan disayangi. Kamu memang bukanlah pacar pertamaku, tapi kamulah cinta pertama
yang aku rasakan. My first love :)
Selang beberapa bulan. .
. Entah apa yang terjadi saat itu, aku lupa. Tiba-tiba saja aku memutuskan
untuk mengakhiri hubungan kita. Bukan karena aku tak lagi menyayangimu, karena
sejujurnya, perasaan itu tak pernah hilang walau umur kita kala itu terbilang
masih kanak-kanak. Oiya, aku ingat! Aku terpaksa memutuskan hubungan kita,
karena prestasiku di sekolah menurun. Dan buruknya, hmm. . . kita kembali miss
communication. Menyakitkan!
Disinilah masa-masa
sulitku, setelah aku kehilanganmu. Aku gagal move on dari kamu hahaha
patah hati di umur yang masih tergolong kanak-kanak. Kasian! Ckck. Aku mulai
menjalin hubungan dengan cowok-cowok lain. Begitu banyak yang menjadi
pelampiasanku. Itu karena aku masih mengharapkanmu dan aku putus asa, karena
sulit sekali untuk bertemu denganmu (lagi). Hubunganku dengan mereka
(cowok-cowok lain) tak pernah bertahan lama. Berpindah dari satu nama ke nama
yang lainnya. Tapi tetap kamu yang ada disini, di hatiku! *nunjuk ke hati* :)
Akhirnya, penantianku
menemukan titik terang. Bisa dikatakan, harapanku tak sia-sia. Dua tahun
berlalu, kita pun kembali berkomunikasi. Selain bertukar nomer handphone,
kita juga berkomunikasi melalui sosial media, facebook. Kita sedikit
lebih dewasa. Mulai berfikir rasional. Dan hampir dapat dikatakan sebagai
“pasangan kekasih yang sesungguhnya”. Kamu mulai berani bermain ke rumahku,
begitupun aku. Kamu mengenal teman-temanku, begitupun aku. Disini, aku sudah
duduk di bangku SMA dan kamu masih dalam proses untuk menyusulku (menjelang
Ujian Nasional).
Semua terasa indah. Aku
bisa merasakan apa yang selama ini ku nantikan. Bersenda gurau, tertawa ceria,
menggenggam tanganmu, bersandar di bahumu, dan. . . tentunya, merasakan kasih
sayangmu. Kamu begitu memanjakan dan memperhatikanku, membuat aku semakin jatuh
cinta kepadamu. . .
BODOH! Aku memang tak
pernah belajar dari pengalaman sebelumnya. Setelah impian dan harapanku untuk
bersamamu (lagi) terwujud, aku justru menghancurkan hal itu dengan mudahnya.
Sosokku yang egois dan suka bermain-main (dengan perasaan orang lain) seperti
sebelumnya, kembali muncul. Aku mulai menyalahgunakan kepercayaan yang kamu
berikan. Awalnya, hanya sebagai teman biasa tapi berlanjut ke hal yang mungkin
diharapkan, mungkin juga tidak diharapkan.
Sampai akhirnya. . . Aku
memutuskan untuk meninggalkanmu (lagi). Kali ini, alasannya cukup jelas. Aku
memilih orang lain dan itu cukup membuatmu terpukul. Kamu menghindariku di
dunia nyata atau pun dunia maya. Dan aku, dengan angkuhnya, menyombongkan orang
yang baru saja aku kenal. Orang yang membuatku terluka dan kecewa
sedalam-dalamnya. Tak pernah aku kira. Aku duga. Aku sangka. Aku berani
menyianyiakanmu, setelah aku tau bagaimana hampanya hidupku tanpa dirimu. How
stupid I am!
Tepat di bulan kelima,
kami (aku dan dia) menjalin hubungan, dia menghilangkan jejak. Dia tak lagi
menghubungiku. Saat aku dan dia bertemu kembali, dia dengan tegasnya mengatakan
bahwa ITU SEMUA TELAH BERAKHIR! Mendengar kalimat itu terucap darinya,
bagaikan kiamat kecil di dalam hidupku. Hatiku hancur dan merasakan sakit
sesakit-sakitnya! Aku merasa, akulah orang yang paling malang di dunia ini. Dan
untuk pertama kalinya, aku menangis karena seseorang yang tak layak untuk ku
tangisi.
Aku menyesal, amat
menyesal telah melukaimu. Menyakitimu. Dan mengecewakanmu. Aku telah
menyianyiakan ketulusanmu. Aku. . . mendapatkan BALASAN atas apa yang telah aku
perbuat kepadamu. Ya, aku merasakan “KARMA”. Sejak kejadian itu, aku bersusah
payah menganggapnya tak ada, TAK PERNAH ADA! Tiap kali bertemu, aku menghindar
dan jika tidak bisa, maka aku berpura-pura seolah tak mengenalnya, sedikit
berharap bahwa aku TIDAK PERNAH MENGENALNYA!
Di tahun yang sama, kamu
mendaftar di SMA tempat aku dan dia bersekolah. Kamu resmi terdaftar sebagai
murid di sekolah yang sama denganku. Ada kebahagiaan tersendiri yang bisa aku
rasakan. Itu berarti, aku bisa sering melihatmu dan bertemu denganmu. Harusnya
seperti itu. Tapi semua kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Karena kamu
menjalin hubungan dengan cewek lain, yang cukup aku kenal. Dan rasanya
mustahil, kala itu untuk mendekatimu lagi. Kamu terlihat sangat bahagia (dengan
dia). Usahaku untuk mendekatimu (lagi dan lagi), pupus! Aku memilih untuk
mundur secara perlahan, meski terkadang aku masih sering mengamatimu dari
kejauhan dan tentunya tanpa sepengetahuanmu.
Aku mulai menerima
kenyataan. Toh, kala itu, aku sibuk dengan sekolah dan bimbelku. Sedikit demi
sedikit, aku mulai melupakanmu dan menghapus perasaanku. Aku memfokuskan diri
untuk Ujian Nasional dan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi
Negeri). Aku tak lagi menghiraukan keberadaanmu. Kamu benar-benar terhapus dari
ingatanku, tapi tidak di hatiku. Karena kamu. . . selalu mempunyai tempat
tersendiri, di hatiku ini :)
Setahun berikutnya, aku
telah selesai dari pendidikan SMA dan kamu naik ke kelas dua. Aku mendengar
kabar, bahwa kamu masuk jurusan IPS (sama seperti dia bukan? Pacarmu saat itu).
Aku turut berbahagia. Hal itu tak pernah aku utarakan langsung kepadamu, cukup
dari hati (saja). Karena apa yang disampaikan dari hati, tentu akan sampai juga
ke hati.
Dua tahun berlalu. Atau
lebih tepatnya, tahun ini (tahun 2013). Aku memberanikan diri untuk
menghubungimu lewat sosial media yang sama, yaitu facebook. Dengan
akunmu yang baru, tentunya. Sementara aku masih menggunakan akunku yang sama
seperti dulu. Ini murni ke-iseng-an semata. Aku melihat kamu sedang online,
dan aku mengirim chat sekedar say hello dan menanyakan kabar.
Sumpah, ini tidak pernah aku rencanakan sebelumnya. Aku tidak berniat
mendekatimu apalagi mengharapkanmu untuk menjadi milikku (lagi). Karena aku
masih menjalin hubungan dengan seniorku di kampus, lima bulan terakhir.
Sementara kamu, baru saja putus cinta.
Awalnya aku hanya
berbasa-basi menyapamu. Tak ku sangka, kamu meresponnya dengan sangat baik.
Kamu langsung meminta nomer handphone-ku dan mengajakku jalan. Well,
hal tak terduga inilah yang menyatukan kita (lagi). Aku yang pernah
meninggalkanmu, demi orang lain. Kini aku meninggalkan orang lain, demi dirimu.
Semoga kita sama-sama belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Bahwa
kita, memang diciptakan untuk bersatu. Sejauh apapun aku melangkah, sekuat
apapun kita melawan takdir. You will always be my final destination :)
08052013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar