Jumat, 14 Februari 2014

SHK_08


Aku telah lama mengenalmu
Mungkin itu sebabnya
Aku bisa menerima setiap kekurangan pada dirimu
Dan tak pernah melihatnya sebagai kekuranganmu
Aku menyayangimu
Dan siap mendampingimu seumur hidupku
Itulah janjiku!
Janjiku untuk dirimu dan untuk diriku sendiri

***



Karena kita tumbuh dan dewasa bersama-sama, itu sebabnya aku amat mengenal karaktermu. Banyak hal yang telah kita lalui bersama. Berdua :) Dari mulai bermain permainan anak-anak, kemudian beranjak mengenal internet dan sering mengunjungi warnet bersama. Dan kini, aku telah duduk di bangku kuliah semester tiga. Sedangkan kamu, baru saja menyelesaikan studi di SMA.

Ingatkah dulu, ketika kita baru saja menjalin hubungan? Sekitar tujuh tahun yang lalu. Saat kita masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Kita berkomunikasi melalui surat, surat-surat itu kita titipkan ke orang yang sama-sama kita kenal.

Lucu rasanya mengingat itu. Ketika kamu mengutarakan cintamu melalui surat. Itu momen terindah yang selalu aku nantikan. Aku sudah menyukaimu, sejak kita sering bermain bersama di waktu liburan (kala itu). Aku sering memperhatikanmu bermain dengan kakakku dan teman-temanmu yang lainnya. Aku sangat bahagia ketika menerima surat pernyataan cintamu. Seolah kamu menyambut cintaku yang selama ini aku pendam. Hahaha konyol dan childish.

Namun, sayangnya kejadian itu tak bertahan lama. Setelah itu, kita mengalami miss communication. Aku jarang melihatmu lagi, tak seperti hari-hari sebelumnya. Walaupun rumah kita berdekatan, rasanya sulit sekali untuk menemukan keberadaanmu kala itu. Kita pun berhenti mengirim surat satu sama lain. Tak ada komunikasi sama sekali, diantara kita. Aku mulai menjalani hari-hariku tanpa dirimu dan surat-suratmu. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. . .

Dua tahun sesudah itu, aku sering melihatmu lagi. Rasanya berbeda. Kala itu, kita sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Kamu meminta nomer handphone-ku dari sepupuku, dan kita mulai SMS-an. Kita sering menghabiskan waktu di taman untuk bercanda ria. Masih tetap konyol hahaha.

Kehadiranmu kembali mengisi hari-hariku dan mewarnai hidupku. Begitu indah. Aku menyayangimu. Ya, aku benar-benar mulai menyayangimu. Bukan sekedar cinta monyet seperti saat kita masih di Sekolah Dasar. Karena kamu, aku merasakan bagaimana menyayangi dan disayangi. Kamu memang bukanlah pacar pertamaku, tapi kamulah cinta pertama yang aku rasakan. My first love :)

Selang beberapa bulan. . . Entah apa yang terjadi saat itu, aku lupa. Tiba-tiba saja aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Bukan karena aku tak lagi menyayangimu, karena sejujurnya, perasaan itu tak pernah hilang walau umur kita kala itu terbilang masih kanak-kanak. Oiya, aku ingat! Aku terpaksa memutuskan hubungan kita, karena prestasiku di sekolah menurun. Dan buruknya, hmm. . . kita kembali miss communication. Menyakitkan!

Disinilah masa-masa sulitku, setelah aku kehilanganmu. Aku gagal move on dari kamu hahaha patah hati di umur yang masih tergolong kanak-kanak. Kasian! Ckck. Aku mulai menjalin hubungan dengan cowok-cowok lain. Begitu banyak yang menjadi pelampiasanku. Itu karena aku masih mengharapkanmu dan aku putus asa, karena sulit sekali untuk bertemu denganmu (lagi). Hubunganku dengan mereka (cowok-cowok lain) tak pernah bertahan lama. Berpindah dari satu nama ke nama yang lainnya. Tapi tetap kamu yang ada disini, di hatiku! *nunjuk ke hati* :)

Akhirnya, penantianku menemukan titik terang. Bisa dikatakan, harapanku tak sia-sia. Dua tahun berlalu, kita pun kembali berkomunikasi. Selain bertukar nomer handphone, kita juga berkomunikasi melalui sosial media, facebook. Kita sedikit lebih dewasa. Mulai berfikir rasional. Dan hampir dapat dikatakan sebagai “pasangan kekasih yang sesungguhnya”. Kamu mulai berani bermain ke rumahku, begitupun aku. Kamu mengenal teman-temanku, begitupun aku. Disini, aku sudah duduk di bangku SMA dan kamu masih dalam proses untuk menyusulku (menjelang Ujian Nasional).

Semua terasa indah. Aku bisa merasakan apa yang selama ini ku nantikan. Bersenda gurau, tertawa ceria, menggenggam tanganmu, bersandar di bahumu, dan. . . tentunya, merasakan kasih sayangmu. Kamu begitu memanjakan dan memperhatikanku, membuat aku semakin jatuh cinta kepadamu. . .

BODOH! Aku memang tak pernah belajar dari pengalaman sebelumnya. Setelah impian dan harapanku untuk bersamamu (lagi) terwujud, aku justru menghancurkan hal itu dengan mudahnya. Sosokku yang egois dan suka bermain-main (dengan perasaan orang lain) seperti sebelumnya, kembali muncul. Aku mulai menyalahgunakan kepercayaan yang kamu berikan. Awalnya, hanya sebagai teman biasa tapi berlanjut ke hal yang mungkin diharapkan, mungkin juga tidak diharapkan.

Sampai akhirnya. . . Aku memutuskan untuk meninggalkanmu (lagi). Kali ini, alasannya cukup jelas. Aku memilih orang lain dan itu cukup membuatmu terpukul. Kamu menghindariku di dunia nyata atau pun dunia maya. Dan aku, dengan angkuhnya, menyombongkan orang yang baru saja aku kenal. Orang yang membuatku terluka dan kecewa sedalam-dalamnya. Tak pernah aku kira. Aku duga. Aku sangka. Aku berani menyianyiakanmu, setelah aku tau bagaimana hampanya hidupku tanpa dirimu. How stupid I am!

Tepat di bulan kelima, kami (aku dan dia) menjalin hubungan, dia menghilangkan jejak. Dia tak lagi menghubungiku. Saat aku dan dia bertemu kembali, dia dengan tegasnya mengatakan bahwa ITU SEMUA TELAH BERAKHIR! Mendengar kalimat itu terucap darinya, bagaikan kiamat kecil di dalam hidupku. Hatiku hancur dan merasakan sakit sesakit-sakitnya! Aku merasa, akulah orang yang paling malang di dunia ini. Dan untuk pertama kalinya, aku menangis karena seseorang yang tak layak untuk ku tangisi.

Aku menyesal, amat menyesal telah melukaimu. Menyakitimu. Dan mengecewakanmu. Aku telah menyianyiakan ketulusanmu. Aku. . . mendapatkan BALASAN atas apa yang telah aku perbuat kepadamu. Ya, aku merasakan “KARMA”. Sejak kejadian itu, aku bersusah payah menganggapnya tak ada, TAK PERNAH ADA! Tiap kali bertemu, aku menghindar dan jika tidak bisa, maka aku berpura-pura seolah tak mengenalnya, sedikit berharap bahwa aku TIDAK PERNAH MENGENALNYA!

Di tahun yang sama, kamu mendaftar di SMA tempat aku dan dia bersekolah. Kamu resmi terdaftar sebagai murid di sekolah yang sama denganku. Ada kebahagiaan tersendiri yang bisa aku rasakan. Itu berarti, aku bisa sering melihatmu dan bertemu denganmu. Harusnya seperti itu. Tapi semua kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Karena kamu menjalin hubungan dengan cewek lain, yang cukup aku kenal. Dan rasanya mustahil, kala itu untuk mendekatimu lagi. Kamu terlihat sangat bahagia (dengan dia). Usahaku untuk mendekatimu (lagi dan lagi), pupus! Aku memilih untuk mundur secara perlahan, meski terkadang aku masih sering mengamatimu dari kejauhan dan tentunya tanpa sepengetahuanmu.

Aku mulai menerima kenyataan. Toh, kala itu, aku sibuk dengan sekolah dan bimbelku. Sedikit demi sedikit, aku mulai melupakanmu dan menghapus perasaanku. Aku memfokuskan diri untuk Ujian Nasional dan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Aku tak lagi menghiraukan keberadaanmu. Kamu benar-benar terhapus dari ingatanku, tapi tidak di hatiku. Karena kamu. . . selalu mempunyai tempat tersendiri, di hatiku ini :)

Setahun berikutnya, aku telah selesai dari pendidikan SMA dan kamu naik ke kelas dua. Aku mendengar kabar, bahwa kamu masuk jurusan IPS (sama seperti dia bukan? Pacarmu saat itu). Aku turut berbahagia. Hal itu tak pernah aku utarakan langsung kepadamu, cukup dari hati (saja). Karena apa yang disampaikan dari hati, tentu akan sampai juga ke hati.

Dua tahun berlalu. Atau lebih tepatnya, tahun ini (tahun 2013). Aku memberanikan diri untuk menghubungimu lewat sosial media yang sama, yaitu facebook. Dengan akunmu yang baru, tentunya. Sementara aku masih menggunakan akunku yang sama seperti dulu. Ini murni ke-iseng-an semata. Aku melihat kamu sedang online, dan aku mengirim chat sekedar say hello dan menanyakan kabar. Sumpah, ini tidak pernah aku rencanakan sebelumnya. Aku tidak berniat mendekatimu apalagi mengharapkanmu untuk menjadi milikku (lagi). Karena aku masih menjalin hubungan dengan seniorku di kampus, lima bulan terakhir. Sementara kamu, baru saja putus cinta.

Awalnya aku hanya berbasa-basi menyapamu. Tak ku sangka, kamu meresponnya dengan sangat baik. Kamu langsung meminta nomer handphone-ku dan mengajakku jalan. Well, hal tak terduga inilah yang menyatukan kita (lagi). Aku yang pernah meninggalkanmu, demi orang lain. Kini aku meninggalkan orang lain, demi dirimu. Semoga kita sama-sama belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Bahwa kita, memang diciptakan untuk bersatu. Sejauh apapun aku melangkah, sekuat apapun kita melawan takdir. You will always be my final destination :)

08052013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar